Aku tidak tahu bagaimana cara melupakanmu.
Yang kutahu, setiap malam selalu kembali padamu.
Lewat bayangan samar di langit-langit kamar,
lewat aroma kopi yang dulu sering kita bagi di sore-sore hambar.
Aku rindu, tapi tak bisa bicara.
Lidahku kelu oleh kenyataan: kau bukan milikku.
Kita tidak pernah benar-benar dekat,
tapi hatiku selalu mendekap erat kenangan yang bahkan tak sempat ada.
Lucu ya?
Merindukan seseorang yang tak tahu kalau sedang dirindukan.
Seolah-olah hati ini menari sendiri di tengah panggung gelap
tanpa musik, tanpa penonton, tanpa tepuk tangan.
Aku menulis pesan lalu kuhapus,
kutulis namamu di kertas, lalu kulempar ke angin.
Aku ingin melupakan, tapi rindu lebih dulu mengakar.
Ia tumbuh dari luka yang kau tidak pernah tahu kau sebabkan.
Andai kamu tahu...
Setiap hujan bagiku adalah suaramu yang jatuh perlahan,
setiap angin membawa harum yang kuharap datang darimu,
setiap malam adalah tanya yang tak pernah dijawab.
Dan aku hanya bisa diam.
Karena dalam diam, aku bisa tetap mencintaimu
tanpa harus kehilanganmu lebih jauh.
Rindu ini tak bisa dipeluk,
tapi biarlah aku tetap menjaganya...
dalam sunyi yang telah jadi rumah bagiku.

Komentar
Posting Komentar